Aku menulis ini di atas bus 123 menuju sentosa dari hotel tempat kami menginap di Singapura. Aku pergi ke singapura bersama suami dan anak anakku. Namun aku ada di bus ini sendirian.

Entah apa yang merasuki aku sampai aku, seorang istri dan ibu dari dua anak, tega meninggalkan mereka semua di hotel dengan makanan cepat saji yang baru saja kupilihkan untuk mereka.
Sebenarnya siang ini kami baru saja dari Sentosa untuk pergi ke Oceanarium dan makan siang.

Setelah selesai makan siang, aku, seorang potterhead, sangat ingin mengajak mereka pergi ke Harry Potter Visions of Magic.

Namun sayangnya, anakku yang besar bersikukuh tidak ingin pergi. Dia sudah tidak sabar ini berenang di hotel mengingat selama 3 hari ke belakang hujan terus. Mereka belum sempat merasakan berenang di sana. Anakku yang kecil juga sudah lelah berjalan. Aku menggendongnya non-stop sejak kemarin. Berdasarkan pemikiran itu, aku sadar keputusan yang tepat adalah berhenti di situ. Jangan dipaksa dilanjutkan.
Saat itu aku memaksa diriku untuk dewasa. “Ayo kamu seorang ibu. Bukan lagi waktunya kamu mementingkan dirimu sendiri. Let it go. Mungkin saat mereka besar nanti kamu bisa ajak mereka main ke sana dengan kondisi yang lebih nyaman tanpa perlu kamu gendong kesana kemari.” Itulah pikiranku yang memaksaku untuk melepaskan kesempatan ini.
“Gapapa bunda Harry Potter dulu aja,” suamiku meyakinkanku.
“Aku difoto aja di depannya,” aku menjawab
“Ayo kak ya, kita masuk dulu,” suamiku coba membujuk anakku.
“Ga mau, mau berenang”
“Udah gapapa, yang penting ada fotonya dulu aja. Nanti lain kali,” jawabku meyakinkan suamiku, juga hatiku.
Akhirnya kami kembali ke hotel. Entah mengapa, aku ternyata tidak bisa lega. I felt like I was missing out something important. Aku terus berusaha mengalihkan pikiranku dengan melakukan berbagai hal namun aku malah menghabiskan waktuku dengan hal yang tidak berguna sambil terus meratapi “andai aku ke sana tadi? kapan lagi ya aku bisa ke sana?” Sikapku juga menjadi tidak sabaran. Semua hal kecil yang biasanya sabar kuhadapi malah membuatku sangat marah.

Suamiku menyadari hal itu. Dia menegur anakku yang besar, berusaha menyadarkan bahwa sebenarnya dia bisa berenang dimanapun dan kapanpun di Indonesia, tapi bagi istrinya, pergi ke Exhibisi Harry Potter belum tentu ada kesempatan lagi dalam tahun-tahun mendatang.
Mendengar itu aku menangis tersedu-sedu mirip anak kecil yang menyadari bahwa aku kehilangan sesuatu yang tidak bisa diambil kembali. Tidak berapa lama, anakku yang besar datang mendekatiku dan memelukku, mengelus pundaku. Aku tahu dia sedih ketika aku bersedih dan aku bisa merasakan rasa bersalahnya.

Setelah aku puas menangis, aku mencoba meresapi apa yang benar benar aku rasa. Ternyata harus kuakui, aku sangat ingin pergi ke tempat itu. Mau sedewasa apapun diriku, ada jiwa anak-anak dalam diriku yang mau kesenanganku bisa tercapai.
Sejak kecil aku suka sekali cerita Harry Potter. Semua buku dan filmnya aku nikmati berulang-ulang. Banyak asesoris Harry Potter yang aku kumpulkan. Bahkan tanda tanganku (kelas 2-3 SMP) mengandung inisial HP saking tergila-gilanya aku kala itu.
Aku menginginkan hal itu dan suamiku mengetahuinya.
“Biar aku yang jaga anak-anak.”
Dan, di sinilah aku sekarang. Setelah 8 tahun menjadi ibu, ini pertama kalinya aku pergi menjauh dari anak anak untuk melakukan apa yang benar-benar aku suka. Biasanya aku pergi sendiri karena memang aku perlu atau ada janji dengan orang lain. Tapi sekarang, aku punya waktuku sendiri untuk melakukan apa yang aku mau.

Aku menikmati setiap detiknya serta mengingat masa-masa beberapa kali berpetualang sendiri di negeri itu. Aku sangat menikmati kecepatan gerak orang-orang di situ. I love their pace and I cannot stop smiling.

Sesampainya aku di sana, ada rasa bersalah meninggalkan anak anakku dan merepotkan suamiku. Tapi jujur saja, semua itu tertutup dengan rasa excitement yang sudah lama tidak aku rasakan. I really enjoyed my 2 hours time and was extremely grateful for my husband.
Setibanya aku di hotel, aku kembali bisa berfungsi dengan baik. Ada semangat baru untuk mulai lagi menemani mereka dan menjadi penolong yang sepadan untuk suamiku.

Aku menyadari bahwa seorang ibu memang tidak punya cuti untuk kabur dari tugasnya, namun ternyata rehat itu penting. Jika kamu ada dalam posisi yang kamu rasa tidak mungkin, curilah sedikit waktu. Bahkan 1-2 menit melakukan apa yang kita inginkan bisa memberi kesegaran tersendiri untuk hidup kita. Hidup adalah pilihan. Jangan sampai tangki kita terlalu kering dan kosong sehingga tidak ada lagi yang bisa kita berikan pada orang lain. Isilah tangkimu dulu. Ketika sudah terisi, kamu akan bisa menyalurkan kesegaranmu pada orang lain.


























