karena Tatha suka sama binatang, aku sering bikin bentuk bentuk merangkai binatang untuk aktivitas motorik halusnya, salah satunya ini.
aktivitas : merangkai bentuk gajah, gunting, menempel
usia : 2 tahun ke atas
untuk aktivitas ini, aku buat dulu satu buah dengan ukuran lebih kecil sebagai contoh supaya Tatha punya gambaran.
untuk anak yang usianya 3 atau 4 tahun ke atas atau yang sudah ahli menggunting, printable ini juga bisa untuk aktivitas gunting ya. Waktu Tatha main ini, aku yang guntingin ini buat dia karena dia belum bisa gunting berkelok kelok waktu itu.
seperti biasa, aku sediakan yang colored dan yang belum ya, biar kalau mau hemat tinta warna punya pilihan. atau mau dijadikan aktivitas mewarnai juga bisa.
default design yang ada di pdf adalah matching numbers activity tapi aku sediakan juga printable yang sama persis dengan lingkaran yang kosong, sehingga mommies bisa isi sendiri dengan aktivitas mencocokkan apa (misal digambar bentuk, atau abjad, atau mencocokkan uppercase dan lowercase, anything!).
aku juga sediakan lembar yang belum diwarnai kalau mau hemat tinta warna dan bisa digunakan untuk coloring activity. Oh, dan ga perlu print semua halaman ya, cukup print yang dimau saja.
Keluargaku terdiri dari 4 anggota : Papa, Mama, kakak perempuanku (6,5 tahun lebih tua), dan aku. Kami berdomisili di Bandung.
Sejak aku kelas 2SD papaku kerja di Jakarta sehingga sehari-hari aku tinggal dengan Mama, kakakku, dan seorang asisten rumah tangga. Papa selalu pulang di hari Jumat malam dan kembali lagi ke Jakarta Senin subuh.
Karena hal ini, interaksi yang terjadi antara aku dan Papa nggak banyak. Zaman itu belum ada internet yang mudah diakses, apalagi smart phone yang bisa video call dimanapun. Handphone pun ukurannya masih segede batu bata (lebay)
Ericsson zaman baheula. Sumber: gsmarena.com
Jujur, karena hal ini dan juga dipupuk oleh ketidakdewasaanku, ketika aku kelas 4SD, aku secara terang-terangan berkata bahwa aku benci Papa karena beliau absen di hidupku.
Hal ini menjadi semakin parah ketika Papa harus pindah tugas ke Batam, dan Mama ikut supaya bisa melayani Papa. Aku dan kakakku pindah ke rumah kakekku. Dititip, istilah orang tuaku waktu itu.
Sebelumnya saja, aku ga suka Papa dan benci dengan rutinitas kami yang harus jemput antar ke stasiun setiap Jumat dan Senin. Lalu apalagi kemudian kami akan makin jarang ketemu karena jarak yang semakin jauh dan kami belum mampu untuk bayar tiket pesawat seminggu sekali (belum ada Low Cost Carrier juga waktu itu, dan kalaupun ada, aku ga yakin kami pun sanggup dengan harga yg harus dibayar).
Kami bukan keluarga berlimpah ruah. Kami adalah keluarga yang cukup, selama tidak neko-neko. Tiket pesawat Batam-Jakarta dan kereta Jakarta-Bandung Pulang pergi termasuk tindakan neko-neko bagi kami saat itu (Belum ada Cipularang yg digadang gadang mampu membuat jakarta Bandung jd 2 jam saja – bener sih kalo kosong, kalo macet mah ya udahlah ya).
Maka waktu bertemu kedua orangtuaku pun makin sedikit sehingga saat itu rasanya aku nggak tahu gimana caranya supaya aku nggak punya rasa benci. Aku juga ga mau jadi anak durhaka. Tapi gimana.
Saat ini, ketika aku menulis inipun, aku menyadari betapa dulu aku adalah anak yang drama banget, manja, dan ga pengertian. Tapi itulah yang aku rasa waktu dulu.
Perasaan murni dari anak kelas 4-5SD yang tinggal jauh dari papa mamanya. Saat itu jelas aku masih kecil dan tidak dewasa untuk bisa menerima kalau apa yang dilakukan papa itu ya untukku juga.
Aku yakin dulu aku mengerti, tapi aku tidak mau menerima kondisi ini, karena banyak diary-diaryku waktu kecil yang menggambarkan betapa sedihnya perasaanku waktu itu.
Bersyukur pada Tuhan, bahwa kebencianku ini dipangkas olehNya, melalui pengalaman kami liburan dalam kondisi apa adanya.
Waktu aku kelas 6SD, papa mama mengajak kami liburan ke Singapura, 2 hari 1 malam.
Aku tahu persis uang papa memang bertambah setelah pindah ke Batam, tapi tetap belum banyak untuk bisa membawa kami hidup nyaman di salah satu negara termahal di dunia. Tapi Papa Mama tetep mengusahakan hal ini, “supaya Papa Mama bisa ngasih pengalaman ke luar negeri sama kalian, paling enggak sekali aja”
Akhirnya berangkatlah kami ke Singapura. Aku agak lupa berangkat dari Bandung atau Jakarta, tapi aku ingat betul kami mendarat di Batam, lalu ke Singapura naik ferry. Cara ini lebih murah dan bagus karena kami jadi punya pengalaman ke Harbour.
Dulu nama ferry-nya : penguin. Gatau skrg masih ada ga. Credit : penguin.com.sg
Sesampainya kami di Port of Singapore, Papa mengajak kami makan. Aku ingat kami makan di McD. Aku pun pilih makanan dengan takut krn aku nggak mau pesananku membebani keuangan papa mama. Tapi Papa bilang, “nggakpapa, pesen aja yang Adek mau”.
Aku masih ingat wajah Papa ketika setelah bicara itu langsung hitung uang di sakunya. Entah menyiapkan, entah benar menghitung-hitung. Tapi hal itu masih jelas di bayanganku.
Setelah kami makan, kami tidak langsung keluar dari pelabuhan. Papa berdiri di depan tiang dengan banner besar yang berisi list hotel yang bisa jadi akomodasi kami, lengkap dengan harga per malamnya. Aku pun masih ingat diskusi antara Papa dan Mama yang bicara “jangan, kemahalan itu Pa”.
Akhirnya kami pun menginap di sebuah motel, aku yakin itu bukan hotel. Karena kamarnya sangat kecil, mungkin seukuran 4×5 m2, dengan kamar mandi berbentuk segitiga di pojok, dan lokasinya, di Geylang. Well. Yes. Geylang.
Credit : Yahoo News Singapore
Untungnya aku dulu belum ngerti apa apa jadi ya gapapa. Tapi kebayang ga sih perasaan Papa Mamaku (yang pasti sudah ngerti Geylang itu tempat yang terkenal sebagai red light district di Singapura)? Pasti mereka dalam hati juga ga mau ngajak kami ke sini, tapi mau apa kan? That was what they could afford at that time. Tujuannya supaya kami senang, menikmati, punya pengalaman. Dan whatever it is, they would do it.
Hal paling berkesan, yang sungguh sejak saat itu membuat kebencianku sama Papa luluh lantak adalah, ketika kemana mana Papa harus bawa bawa satu tas jinjing besar berisi keperluan kami liburan. Seperti yang sudah aku jelaskan, kami hanya liburan 2 hari semalam, jadi semua pakaian kami berempat ada di satu tas besar. Dan Papa Mama jelas ga akan mau nitip tas di motel tempat kami menginap. Akhirnya Papa bawa tas itu kemana mana. Sampai aku masih ingat, bahwa aku ikut bersyukur ketika kami di Sentosa ada tempat sewa locker.
Dari semua yang aku ingat, ga sekalipun aku dengar Papa mengeluh. Di dalam kondisi seburuk apapun saat liburan itu, Papa tetep senyum, ga pernah bilang “ya ampun tasnya berat” Atau “hotelnya kok kotor” dsb. Ga pernah sekalipun. Dan dari detik itu, Tuhan gantikan rasa benciku menjadi kekaguman dan hormat yang amat sangat terhadap Papaku.
Dari pengalaman liburan ini, (yang aku liat di masa ini, “kok kyknya dulu menderita banget”), justru adalah situasi yang mengobati kebencianku pada papaku.
Bukan dari kemewahan, justru dari kerapuhan dan perjuangan yang Papa perlihatkan. Justru dalam kondisi yang tidak ideal aku bisa mengerti perjuangan yang dilakukan oleh orang tuaku untukku.
Bukan dalam kelimpahan tapi justru dalam kondisi pas pasan, aku bisa menerima bahwa inilah keluarga kami, keluarga yang harus dipisahkan jarak untuk sementara waktu, karena itulah berkat yang Tuhan izinkan ada dalam hidup kami
Sampai sekarang aku tetep inget sesosok bapak bapak bertopi menenteng tas berat untuk cari akomodasi yang bisa dia bayar agar anak anak istrinya boleh tidur cukup layak malam itu.
Seorang bapak yang pasti mikirin, “ini SGD ku cukup ga untuk besok juga main ke sentosa”, “Cukup ga untuk beli makan di negara mahal ini.” Sosok inilah yang justru membuatku, anak kelas 6SD saat itu, menyadari, papaku kerja di tempat jauh untuk berjuang untuk keluarga. Dan mamaku memang sudah pada tempatnya ada di samping papaku, karena itulah janji mereka di hadapan Tuhan bukan?
Refleksi yang ingin aku gambarkan dari sini adalah, betapa aku seringkali lupa, bahwa bukan kemewahan yang bisa menggantikan waktu kebersamaan yang hilang. Waktu kebersamaan memang berbanding terbalik dengan waktu yang harus kita keluarkan untuk bekerja, itu sudah kodratnya.
Aku, yang dahulu bertekad ga mau ninggalin anak karena pengalamanku, sekarang jadi mengerti bahwa banyak orang tua tidak punya pilihan selain untuk bekerja, berpisah dari dan demi keluarga yang dipimpinnya.
Pekerjaan ini akan mengambil waktu dan juga memperlebar jarak antara anak dan orang tua. Tapi kalau hanya itu yang bisa dilakukan agar anak istrinya hidup, mau apa?
Aku belajar bahwa hal yang bisa mengobati kerinduan akan kebersamaan adalah penerimaan dan pengertian, bahwa apa yang orang tua lakukan adalah untuk anaknya. Dan hal itu, berdasarkan pengalamanku, perlu untuk ditunjukkan pada anak anak kita
Entah bagaimana sering aku tersesat pada ajaran masa kini yg mengajarkan anak tidak boleh lihat orang tua susah atau menangis. Aku sejujurnya kurang setuju dengan hal ini. Justru dalam kejujuran, dalam menjadi otentiklah, anak bisa belajar apa yg orang tua lakukan untuk bisa bertahan sampai saat ini.
Dunia ini bukan hanya tempat orang tua mereka tersenyum. Tapi juga orang tua mereka berjuang, untuk sesuatu yang mereka nilai berharga, yaitu keluarga. Aku rasa anak anak perlu mengerti perjuangan ini. Karena hanya dengan mengerti, mereka mampu untuk menghargai.
Dan memang benar, pertumbuhan tidak terjadi di tempat yang nyaman.
Bukan dalam kenyamanan, tapi dalam perjuangan Papaku membawa tas berat untuk menyenangkan istri dan anak anaknya, aku belajar kasih Papa yang sesungguhnya, bahwa Papa itu sangat sayang pada anak anaknya.
Ibarat tas jinjing yang harus Papa bawa, itulah kami di hatinya dan sama seperti Papa tidak menganggap tas itu mengganggu, kami pun bukanlah beban baginya, justru penyemangat untuk bekerja lebih giat lagi.
Sampai saat ini, aku selalu angkat topi dan menaruh hormatku pada Papa yang sampai sekarang pun masih aktif bekerja, “berkarya untuk Tuhan,” katanya. Papa adalah salah satu figur yang paling berperan dalam menaruh nilai nilai penting dalam hidupku.
The way we parent is all tied to the way our parents parented us
Aku sangat setuju bahwa pendidikan parenting bukan dimulai saat aku jadi orang tua, tapi justru diberikan sejak aku kecil.
Orang tuaku adalah guru pertama bagiku dan guru utama di masa sinapsis otakku masih berkembang sehingga cara aku memandang dan memahami sesuatu sangat dipengaruhi oleh bagaimana cara hidup orang tuaku.
Semua ini membentuk sebagian besar karakterku dan tentu akhirnya berpengaruh pada caraku mendidik anak kami, Tatha.
Nah karena aku mau banyak cerita tentang parenting journey yang aku alami, aku rasa sedikit latar belakang tentang keluargaku akan membuat ceritaku lebih mudah dipahami.
Cerita ini tidak bermaksud untuk mendiskreditkan orang tuaku, i love my parents so much. Hanya saja, sama seperti anak lainnya, kita semua punya pengalaman dengan orang tua yang tidak sempurna, yang dari setiap tingkah laku mereka bisa diambil banyak pelajaran hidup.
Selain itu, aku merasa banyak sekali berkat dan hikmat yang Tuhan tanamkan melalui cerita hidupku hingga saat ini, dan aku rindu orang lain pun dapat memperoleh berkat, solusi, atau sekedar sebagai teman seperjuangan yang mengalami hal yang sama. Karena orang yang mengalami permasalahan yang sama akan menjadi teman seperjalanan yang baik bukan?
Maka, cerita pertamaku di blog ini adalah cerita tentang masa kecilku.
this is @ibuntatha blog, a complementary of my instagram account.
the main reason i made this blog is to share some playing ideas and printables i made for my daughter. Yet, also here, i will share you things and stories about my motherhood journey that (i hope) would help some mothers out there.