I’m planning to deactivate my @ibuntatha instagram account since I recently found it hard to read/write shared information in a short space such as instagram. Hence, before doing so, I will rewrite some of important information I had posted in that account with my present point of view. This story is one of them.
Note : ini cerita kami pada Des 2015 – Jan 2016
Aku menikah dengan suamiku pada bulan Mei 2014. Kami menjalankan pernikahan “jarak jauh” karena alasan pekerjaan. Saat itu dia bekerja di Kalimantan sedangkan aku bekerja di Jakarta, dengan ikatan dinas sampai Desember 2016.
Sejak awal menikah kami sudah bertekad, jika Tuhan izinkan kami punya anak, sebisa mungkin kami mau merawat anak itu sendiri. Oleh karena itu, doa kami memang, jika Tuhan izinkan, kami dikaruniai anak setelah ikatan dinasku selesai (kalau resign sebelum waktunya bayar 200 jeti boo)
Tapi, dasar aku manusia labil, ternyata aku sedih banget ketika menyadari bahwa dalam kurun waktu 1,5 tahun pernikahan kami belum dikaruniai anak (ga sadar sama doa sendiri di awal). Jadi atas dasar kesedihan ini, sejak Desember 2015 kami memutuskan untuk mulai memeriksakan fertilitas kami berdua. Aku di obgyn Brawijaya Hospital, Jl. Taman Brawijaya, sedangkan suamiku di androlog Klinik Sam Marie, Jl. Wijaya keduanya di Jakarta Selatan.
Klinik Sam Marie Wijaya – cek fertilitas suami

Di sini kami diperiksa oleh dr. Indra Gusti Mansur, DHES, Sp.And (spesialis andrologi). Ada 4 pemeriksaan :
1. fisiologis alat kelamin suami
2. usg alat kelamin suami
3. pemeriksaan laboratorium sperma suami
4. tes reaksi darah aku ketika dipertemukan dengan sperma suami untuk melihat antibodi yang bereaksi terhadap sperma suamiku, sebutannya ASA.
singkat cerita, ada 2 akar masalah yang ditemukan dalam pemeriksaaan ini :
1. suamiku punya varikokel grade 1. varikokel ini sejenis varises tapi di testis. varikokel ini berpotensi membuat kualitas sperma menurun. bisa saja ada varikokel tapi spermanya tetap bagus. tapi dalam kasus suamiku, kemungkinan besar tidak begitu.
2. Antibodiku yang menyerang sperma suamiku (ASA) sangat banyak, puluhan ribu (aku lupa angkanya berapa) Info dari dr. Indra, kehamilan bisa terjadi jika 1 sel sperma maksimal diserang oleh 64 “pasukan” antibodi. Lha ya kondisiku malah puluhan ribu. Piye.
Solusi yang ditawarkan dr. Indra :
1. Karena grade varikokel suamiku masih rendah, suamiku hanya perlu terapi obat.
2. Untuk menurunkan nilai ASAku yang tinggi dr. Indra menyarankan kami untuk terapi PLI (Paternal Leukocyte Immunization) atau ILS (Imunisasi Leukosit Suami). Terapi ini dilakukan dengan menyuntikkan leukosit suami ke bawah kulit istri setiap 3 minggu sekali. Melalui terapi ini, diharapkan tubuhku terbiasa menerima “sel sel” suami sehingga nilai ASA ku turun dan jadi ideal untuk hamil.
Mendengar ini semua dan menimbang bahwa terapi PLI ini nggak cocok sama kehidupan kami yang tinggal jarak jauh, kami memutuskan cari second opinion dan sebelum ke androlog lain untuk second opinion, kami cek dulu ke obgyn untuk memeriksa fertilitasku.
Brawijaya Hospital & Clinic – Cek Fertilitas Calon Ibu

Di rumah sakit ini aku diperiksa oleh dr. Dinda Derdameisya, Sp.OG. Singkat cerita, berdasarkan informasi beliau, untuk memeriksa fertilitasku ada 4 bagian yang harus diperiksa : 1. Vagina & mulut rahim, 2. Rahim, 3. Tuba Falopi, 4. Ovarium.

Selama tidak ada keluhan dan juga jadwal mens teratur, pemeriksaan 1, 2, dan 4 bisa dilakukan melalui observasi dan USG. Untuk nomor 4 (tuba falopi) harus dilakukan pemeriksaan HSG (Hysterosalpingography)
Pemeriksaan HSG dilakukan dengan cara memasukkan cairan kontras (kata dokter radiolognya sih mirip betadine) ke dalam rahim lalu secara radiologi akan dilihat apakah cairan tersebut berhasil sampai ke ovarium. Jika berhasil maka tidak ada sumbatan di tuba falopi, jika tidak, berarti ada sumbatan.
Aku cek HSG di RSPP dan saat itu kalau nggak salah biayanya sekitar 1 jutaan lebih. Aku ga begitu ingat. Tapi hari ini aku coba search, harga HSG di prodia itu sekitar 1.650.000.
Pemeriksaan HSG ini seharusnya nggak sakit. Tapi karena lubang rahimku agak serong sedikit, dan hal itu bukan hal yang biasa untuk dokter radiolog, jadinya sakit bangeeett karena dokter waktu itu harus kesulitan cari lubang rahimku. Tears.
Puji Tuhan hasil HSG ku nggak menunjukkan ada sumbatan.

Jadi selanjutnya, jika dalam beberapa bulan mendatang kami belum diizinkan hamil, maka kami akan mencoba cara lain : inseminasi/IVF.



























